Selasa, 10 Juni 2014

PROPINSI JAMBI

 
Propinsi yang kelima di tanah air adalah propinsi Jambi yang letaknya juga di pulau Sumatra.
Sejarah : Ada beberapa sumber dan hipotesa mengenai sejarah Jambi, antara lain di dalam kitab sejarah dinasti T’ang (Cina) disebutkan untuk pertama kalinya tentang datangnya utusan dari negeri Mo-lo-yu, pada tahun 644-645. Nama Mo-lo-yu  ini dapat dihubungkan dengan negeri Malayu yang letaknya di pantai timur Sumatra, dan pusatnya sekitar jambi. Juga dalam kitab tersebut Jambi dihubungkan dengan Melayu dan Sriwijaya.
            Menurut berita Cina tersebut di atas, kelihatannya sumber berita pendeta Cina, tahun 672, I-tsing yang telah dikemukakan dalam pembahasan mengenai Sumatra Utara, masih berlaku sebagai rujukan dalam membahas propinsi Jambi. I-Tsing, dalam perjalanannya dari Kanton menuju India, singgah di Shih-li-fo-shih, Sriwijaya, selama enam bulan untuk belajar tatabahasa Sansekerta. Ia singgah di Mo-lo-yu (Melayu) dua bulan untuk selanjutnya meneruskan perjalannya ke India. Sekitar tahun 692, ketika I-Tsing untuk kedua kalinya datang ke Melayu, dikatakannya bahwa Mo-lo-yu sekarang sudah menjadi negeri Sriwijaya. Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa pada sekitar tahun 692 kerajaan sriwijaya telah mengembangkan kekuasaannya dan menaklukkan kerajan-kerajaan lainnya di Sumatra. Waktu berada di Sriwijaya, I-Tsing, menulis dua buah buku mengenai perjalanannya di Sumatra. Pada tahun 692, ia mengirim kedua bukunya itu ke Cina, sedangkan ia sendiri baru kembali ke negerinya tahun 695. Terjemahan buku-buku inilah yang menjadi sumber sebagian besar sejarah Sriwijaya. Sejarah, berdasarkan berita Cina itu, juga mengungkapkan bahwa Sriwijaya menjalin hubungan erat dengan istana para kaisar Cina yang dibuktikan dengan pengiriman utusan Sriwijaya ke negeri Cina. Juga, Sriwijaya menjalin hubungan dengan India. Sebuah prasasti rajaDewapaladewa dari Bengala yang dibuat pada akhir abad ke-9 menyebutkan sebuah biara yang dibuat atas perintah Balaputradewa Maharaja di Suwarnadwipa (Sumatra). Prasasti tersebut dikenal dengan nama prasasti Nalanda.
            Sebagaimana halnya dengan daerah yang terletak di pesisir pantai timur pulau Sumatra , Jambi dekat dengan Selat Malaka yang dilintasi oleh berbagai kapal dagang dari India, Persia, Cina, dan Arab semenjak abad ke-7. Hal inilah yang di maksud oleh Nugroho Notosusanto, dkk. Dengan “ tahap perkenalan” bangsa Indonesia dengan Islam pedagang-pedagang tersebut sebagian besar beragama Islam. Dengan demikian, Jambi telah mengenal Islam sekitar akhir abad ke-7 dan awal abad ke-8 melalui pedagang dari Gujarat , India, Persia dan Cina tersebut. Kemudian Islam berkembang pesat sehingga mewarnai sikap hidup dan budaya rakyat. Hal ini tercemin dari pepatah adatnya : adat bersendi Syara’ dan Syara’ bersendi Kitabullah.  Gugurnya pahlawan bangsa. Karena kuatnya pengaruh Islam , kedatangan bangsa Belanda mendapat perlawanan. Perlawanan ini dimulai pada tahun 1825, dilanjutkan dengan Perang Sultan Thaha (1855-1907), perlawanan Raden Mat Thaher (1900-1907), dan perlawanan rakyat Kerinci (1901-1907). Dalam perang ini, banyak pahlawan yang gugur, termasuk Sultan Mahmud Muhyidin, Pangeran Wirakusuma, Putri Ayu (Permaisuri II Sultan Mahmud Muhyidin), Sultan Thaha Syaifuddin, Raden Mat Thaher, Sultan Fahruddin, dan Sultan Achmad Nazaruddin dan lain lainnya. Beliau-beliau ini merupakan sosok yang terpuji yang telah mengorbankan jiwa mereka untuk mengembalikan harga diri anak bangsa setelah ratusan tahun lamanya dihina pemerintah Hindia Belanda.
Kekurangan:
   Kekurangan dari referensi ini adalah kurang menjelaskan tentang detail sisi Provinsi Jambi, baik dari kota, dan disini tidak menjelaskan tentang ciri khas dari provinsi Jambi, disini hanya menjelaskan tentang sejarah dimasa kerjaan saja.

Kelebihan:
   Kelebihan disini memaparkan detail tentang sejarah dimasa kerajaan dahulu dan menjelaskan keadaan yang terjadi dimasa lampau.
MANUSIA INDONESIA DAN KEBUDAYAAN DI INDONESIA , TEORI DAN KONSEP
Sofia Rangkuti-Hasibuan
2002 Dian Rakyat
Diterbitkan oleh Dian Rakyat – Jakarta
Dicetak oleh PT.Dian Rakyat – Jakarta
Cetakan Pertama 2002
Studi Pustaka : Dr. Hj. Sofia Rangkuti-Hasibuan M.A (Manusia dan Kebudayaan Indonesia)